Tampilkan postingan dengan label Electro. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Electro. Tampilkan semua postingan

Tentang Resistor


Resistor adalah komponen elektronika berjenis pasif yang mempunyai sifat menghambat arus listrik Satuan nilai dari resistor adalah ohm, biasa disimbolkan Ω.

Fungsi dari Resistor adalah :
1. Sebagai pembagi arus
2. Sebagai penurun tegangan
3. Sebagai pembagi tegangan
4. Sebagai penghambat aliran arus listrik,dan lain-lain.

Resistor berdasarkan nilainya dapat dibagi dalam 3 jenis yaitu :
1. Fixed Resistor
2. Variable Resistor
3. Resistor Non Linier
:
:
:
Yaitu resistor yang nilai hambatannya tetap.
Yaitu resistor yang nilai hambatannya dapat diubah-ubah.
Yaitu resistor yang nilai hambatannya tidak linier karena pengaruh faktor lingkungan misalnya suhu dan cahaya.


Resistor Tetap (Fixed)
Secara fisik bentuk resistor tetap adalah sebagai berikut : 


Beberapa hal yang perlu diperhatikan :
1.
2.
3.
Makin besar bentuk fisik resistor, makin besar pula daya resistor tersebut.
Semakin besar nilai daya resistor makin tinggi suhu yang bisa diterima resistor tersebut.
Resistor bahan gulungan kawat pasti lebih besar bentuk dan nilai daya-nya dibandingkan resistor dari bahan carbon.

Resistor Variabel
1. Trimpot : Yaitu variabel resistor yang nilai hambatannya dapat diubah dengan mengunakan obeng.
2. Potensio :

Yaitu variabel resistor yang nilai hambatannya dapat diubah langsung mengunakan tangan (tanpa alat bantu) dengan cara memutar poros engkol atau mengeser kenop untuk potensio geser.
Contoh bentuk fisik dari variable resistor jenis Trimpot : 


Contoh bentuk fisik dari variable resistor jenis Potensio : 


Bentuk resistor non linier misalnya PTC, LDR dan NTC


PTC : Positive Temperatur Coefisien
adalah jenis resistor non linier yang nilai hambatannya terpengaruh oleh perubahan suhu. Makin tinggi suhu yang mempengaruhi makin besar nilai hambatannya.


NTC : Negative Temperatur Coefisien
adalah jenis resistor non linier yang nilai hambatannya terpengaruh oleh perubahan suhu. Makin tinggi suhu yang mempengaruhi makin kecil nilai hambatannya.

LDR : Light Dependent Resistor
adalah jenis resistor non linier yang nilai hambatannya terpengaruh oleh perubahan intensitas cahaya yang mengenainya. Makin besar intensitas cahaya yang mengenainya makin kecil nilai hambatannya.


 Tabel Warna Resistor dan Cara Pembacaannya :

Resistor dengan daya rendah di bawah 1 watt biasanya menggunakan table warna 
yang cukup rumit dalam pembacaan resistansinya, berikut adalah tabel ukuran 
resistensi dan pembacaanya.

Warna ke 1
Warna ke 2
Warna ke 3
Warna ke 4
Hi tam - 0 -
Coklat 1 1 0
Merah 2 2 00
Orange 3 3 000
Kuning 4 4 0000
Hijau 5 5 00000
Biru 6 6 000000
Ungu 7 7 0000000
Abu abu 8 8
Putih 9 9
Emas Toleransi 5%
Perak Toleransi 10%

Pembacaan tabelnya adalah, Warna ke 1 menyatakan angka, warna ke2 menyatakan
angka, warna ke3 menyatakan banyaknya nol, warna ke 4 menyatakan batas toleransi
ukur.

Pada urutan pembacaan resistor diatas dapat di contohkan dalam studi kasus sebagai
berikut, misalkan kita akan membaca resistor dengan ukuran besar 47000 Ohm atau
47k Ohm, maka urutan
warnanya adalah sbb:
Kuning            =  4.
Ungu               =  7.
Orange            =  000.
Emas               =  Toleransi 5 %

Pembacaan untuk kode warna ke empat adalah sebagai toleransi batas ukur keakuratan
suatu resistansi.
Jadi, resistor jika jarang sekali ada yang sesuai ukurannya, misalkan kita mengukur
resistor dengan resistan 47 Ohm, terkadang yang terukur hanya 45 Ohm atau bisa jadi
50 Ohm.

Nah itu lah yang menjadi tolak ukur resistor yang mempunyai batas toleransi 5%,
Ok deh udah sedikit paham nihhh…

Nah sekarang Study kasus yang kedua, kita mau baca resistor dengan besar
ukuran 2k2 Ohm atau 2200 Ohm.
1.  Merah         =  2.
2.  Merah`        =  2.
3.  Merah         =  00
4.  Emas          =  Toleransi 5 %.




Simbol dari fixed resistor adalah sebagai berikut :
Resistor Tetap
Standar AS dan Jepang Eropa

Simbol dari variable resistor adalah sebagai berikut :
Resistor Variabel
Standar AS dan Jepang Eropa

Simbol dari resistor non linier adalah sebagai berikut :
Resistor Non Linier
Jenis LDR NTC PTC

Antarmuka Komputer – Mikrokontroler

Antar muka Komputer
Antar muka Komputer

Antar muka Komputer
Mikrokontroler dapat digunakan untuk berhubungan dengan piranti lainnya, salah satunya adalah antarmuka dengan komputer.

Antarmuka ini dimaksudkan agar data yang diperoleh dari mikrokontroler kemudian dapat dihubungkan dengan komputer dan kemudian dapat diproses lebih lanjut, seperti penyimpanan ke database, menampilkan di layar monitor, atau di upload ke server lain di internet.

Ada beberapa terminal antar muka antara komputer dan mikrokontroler, antara lain melalui port paralel, port serial, usb, ataupun melalui card tambahan seperti PPI8255.
Dari beberapa teknik antar muka diatas dapat dijelaskan sebagai berikut :

1.  Antar muka melalui port paralel
Antar muka dengan menggunakan port paralel menggunakan komunikasi  paralel sebanyak 8 bit data dalam parelel port (port data) dihubungkan dengan 8 bit data dalam mikrokontroler. Sistem antar muka ini merupakan sistem antarmuka yang paling cepat diantara yang lainnya. Akan tetapi memiliki kekurangan yaitu membutuhkan jumlah sambungan yang banyak.

2. Antar muka dengan menggunakan serial port
Sitem antar muka dengan menggunakan port serial ini banyak digunakan dalam sistem saat ini. Dengan menggunakan sistem antar muka serial, port serial (UART) dari mikrokontroler dihubungkan ke konverter RS-232 kemudian dihubungkan ke port serial komputer.

Kecepatan transfer dari komunikasi ini bergantung pada baudrate dari komunikasi serial di antara dua piranti tersebut, kedua piranti tersebut, yaitu komputer dan mikrokontroler harus mempunyai nilai baudrate (jumlah byte per detik) yang sama, misal 1200,2100,19200, 115000, dll.
Misal baudrate 1200, maka komunikasi tersebut dapat mentransfer data sebanyak 1200 byte data dalam satu detik.
Sistem antar muka port serial ini banyak digunakan dalam sistem antarmuka saat ini.

3. Sistem antar muka menggunakan usb
Saat ini setiap komputer sudah dilengkapi dengan usb, serta sebagaian besar piranti tambahan komputer juga sudah menggunakan usb, usb saat ini sudah sangat populer untuk menghubungkan perangkat luar ke komputer, seperti transfer data atau gambar, dll.

Demikian juga dengan antar muka misalnya antara handphone dengan komputer juga menggunakan usb. Sistem antar muka antara mikrokontroler dan komputer melalui usb sebenarnya sama dengan antar muka melalui port serial. Jadi data serial dari mikrokontroler dihubungkan terlebih dahulu ke konverter serial – USB kemudian dihubungkan ke port usb.
Di dalam komputer port usb tersebut kemudian di kenali sebagai port serial baru. Jadi, program interface dalam komputer tersebut dapat menerima data tersebut sebagai data serial.

Mikrokontroler


             Mikrokontroler adalah sebuah piranti elektronika digital yang yang terintegrasi dalam sebuah chip, mikrokontroler tersusun dari mikroprosesor dan piranti pendukungnya.
Ada beberapa jenis mikrokontroler dengan produsen pembuatnya antara lain Atmel, PIC, Renesas, dll.

Mikrokontroler dalam sebuah rangkaian elektronika berfungsi sebagai pengatur keseluruhan kerja dari sistem yang terprogram.

Mikrokontroler adalah otak dari sebuah sistem elektronika digital, dimana sistem kerjanya diatur berdasarkan program dalam bahasa pemrograman yang digunakan, ada beberapa bahasa pemrograman yang dapat digunakan, pada umumnya semua bahasa pemrograman dapat diaplikasikan ke mikrokontroler, akan tetapi membutuhkan kompiler yang mendukung mikrokontroler tersebut.

Diantara bahasa pemrograman yang biasa digunakan dalam memrogram mikrokontroler produksi Atmel adalah bahasa Assembler, bahasa C, C++, basic, ataupun turbo pascal.
Dari bebeerapa bahasa pemrograman diatas, bahasa pemrograman assembler merupakan bahasa pemrograman yang memiliki efisiensi yang tinggi dalam siklus ataupun penggunaan memori, akan tetapi bahasa pemrograman asembler memiliki kekurangan yaitu bahasanya susah dimengerti oleh pola pikir manusia karena masih merupakan bahasa pemrograman tingkat rendah.

Bahasa pemrograman yang lain yang sudah menggunakan bahasa pemrograman tingkat tinggi adalah bahasa C atau C++.

Bahasa pemrograman dipandang paling efisien dibandingkan bahasa pemrograman tingkat tinggi lainnya yang biasa digunakan dalam pemrograman mikrokontroler,  bahasa C atau C++ mudah dipahami oleh manusia, akan tetapi efisiensinya baik itu efisiensi siklus ataupun memorinya masih kurang bila dibandingkan dengan bahasa assembler.

Dari penjelasan diatas, menurut saya bahasa pemrograman yang paling optimal adalah bahasa pemrograman C atau C++.

Prinsip Kerja Rangkaian Sensor Ultrasonik

Gelombang ultrasonik adalah gelombang dengan besar frekuensi diatas frekuensi gelombang suara yaitu lebih dari 20 KHz. Seperti telah disebutkan bahwa sensor ultrasonik terdiri dari rangkaian pemancar ultrasonik yang disebut transmitter dan rangkaian penerima ultrasonik yang disebut receiver. Sinyal ultrasonik yang dibangkitkan akan dipancarkan dari transmitter ultrasonik. Ketika sinyal mengenai benda penghalang, maka sinyal ini dipantulkan, dan diterima oleh receiver ultrasonik. Sinyal yang diterima oleh rangkaian receiver dikirimkan ke rangkaian mikrokontroler untuk selanjutnya diolah untuk menghitung jarak terhadap benda di depannya (bidang pantul).

Prinsip kerja dari sensor ultrasonik dapat ditunjukkan dalam gambar dibawah ini :

Prinsip Kerja Sensor Ultrasonik
Prinsip Kerja Sensor Ultrasonik


Prinsip kerja dari sensor ultrasonik adalah sebagai berikut :
  1. Sinyal dipancarkan oleh pemancar ultrasonik. Sinyal tersebut berfrekuensi diatas 20kHz, biasanya yang digunakan untuk mengukur jarak benda adalah 40kHz. Sinyal tersebut di bangkitkan oleh rangkaian pemancar ultrasonik.
  2. Sinyal yang dipancarkan tersebut kemudian akan merambat sebagai sinyal / gelombang bunyi dengan kecepatan bunyi yang berkisar 340 m/s. Sinyal tersebut kemudian akan dipantulkan dan akan diterima kembali oleh bagian penerima Ultrasonik.
  3. Setelah sinyal tersebut sampai di penerima ultrasonik, kemudian sinyal tersebut akan diproses untuk menghitung jaraknya. Jarak dihitung berdasarkan rumus :
S = 340.t/2

dimana S adalah jarak antara sensor ultrasonik dengan bidang pantul, dan t adalah selisih waktu antara pemancaran gelombang ultrasonik sampai diterima kembali oleh bagian penerima ultrasonik.


a. Pemancar Ultrasonik (Transmitter)

Pemancar Ultrasonik ini berupa rangkaian yang memancarkan sinyal sinusoidal berfrekuensi di atas 20 KHz menggunakan sebuah transducer transmitter ultrasonik
Rangkaian Pemancar Gelombang Ultrasonik
Rangkaian Pemancar Gelombang Ultrasonik

Prinsip kerja dari rangkaian pemancar gelombang ultrasonik tersebut adlah sebagai berikut :
  1. Sinyal 40 kHz dibangkitkan melalui mikrokontroler.
  2. Sinyal tersebut dilewatkan pada sebuah resistor sebesar 3kOhm untuk pengaman ketika sinyal tersebut membias maju rangkaian dioda dan transistor.
  3. Kemudian sinyal tersebut dimasukkan ke rangkaian penguat arus yang merupakan kombinasi dari 2 buah dioda dan 2 buah transistor.
  4. Ketika sinyal dari masukan berlogika tinggi (+5V) maka arus akan melewati dioda D1 (D1 on), kemudian arus tersebut akan membias transistor T1, sehingga arus yang akan mengalir pada kolektotr T1 akan besar sesuai dari penguatan dari transistor.
  5. Ketika sinyal dari masukan berlogika tinggi (0V) maka arus akan melewati dioda D2 (D2 on), kemudian arus tersebut akan membias transistor T2, sehingga arus yang akan mengalir pada kolektotr T2 akan besar sesuai dari penguatan dari transistor.
  6. Resistor R4 dan R6 berfungsi untuk membagi tengangan menjadi 2,5 V. Sehingga pemancar ultrasonik akan menerima tegangan bolak – balik dengan Vpeak-peak adalah 5V (+2,5 V s.d -2,5 V).


b. Penerima Ultrasonik (Receiver)

Penerima Ultrasonik ini akan menerima sinyal ultrasonik yang dipancarkan oleh pemancar ultrasonik dengan karakteristik frekuensi yang sesuai. Sinyal yang diterima tersebut akan melalui proses filterisasi frekuensi dengan menggunakan rangkaian band pass filter (penyaring pelewat pita), dengan nilai frekuensi yang dilewatkan telah ditentukan. Kemudian sinyal keluarannya akan dikuatkan dan dilewatkan ke rangkaian komparator (pembanding) dengan tegangan referensi ditentukan berdasarkan  tegangan keluaran penguat pada saat jarak antara sensor kendaraan mini dengan sekat/dinding pembatas mencapai jarak minimum untuk berbelok arah. Dapat dianggap keluaran komparator pada kondisi ini adalah high (logika ‘1’) sedangkan jarak yang lebih jauh adalah low (logika’0’). Logika-logika biner ini kemudian diteruskan ke rangkaian pengendali (mikrokontroler).
Rangkaian Penerima Gelombang Ultrasonik
Rangkaian Penerima Gelombang Ultrasonik

Prinsip kerja dari rangkaian pemancar gelombang ultrasonik tersebut adalah  sebagai berikut :
  1. Pertama – tama sinyal yang diterima akan dikuatkan terlebih dahulu oleh rangkaian transistor penguat Q2.
  2. Kemudian sinyal tersebut akan di filter menggunakan High pass filter pada frekuensi > 40kHz oleh rangkaian transistor Q1.
  3. Setelah sinyal tersebut dikuatkan dan di filter, kemudian sinyal tersebut akan disearahkan oleh rangkaian dioda D1 dan D2.
  4. Kemudian sinyal tersebut melalui rangkaian filter low pass filter pada frekuensi < 40kHz melalui rangkaian filter C4 dan R4.
  5. Setelah itu sinyal akan melalui komparator Op-Amp pada U3.
  6. Jadi ketika ada sinyal ultrasonik yang masuk ke rangkaian, maka pada komparator akan mengeluarkan logika rendah (0V) yang kemudian akan diproses oleh mikrokontroler untuk menghitung jaraknya.

Sensor Ultrasonik

Sensor Ultrasonik
Sensor Ultrasonik

Sensor ultrasonik adalah salah satu piranti elektronika yang dapat mengukur jarak didepannya dengan menggunakan sifat dari gelombang suara yang dipantulkan.
Sensor (jarak) ultrasonik menggunakan media suara untuk melakukan pengukuran jarak.
Sensor ultrasonik terdiri dari 2 bagian, yaitu bagian pemancar dan bagian penerima, bagian pemancar ultrasonik akan memancarkan gelombang ultrasonik pada frekwensi  lebih dari 20kHz, biasanya menggunakan frekwensi 40kHz. Kemudian sinyal tersebut akan dipantulkan kembali setelah mencapai suatu benda di depannya. Sinyal tersebut akan di terima kembali oleh bagian penerima sinyal.

Jarak antara sensor dengan bidang pantul nya dapat diketahui dengan menggunakan rumus :

S = V.t/2

Dimana S adalah jarak sensor dengan bidang pantul, V adalah kecepatan suara (340m/s), dan t adalah selisih waktu antara pemancaran sinyal sampai diterima kembali oleh penerima ultrasonik.

Sensor ultrasonik tersebut di hubungkan ke mikrokontroler untuk melakukan penghitungan waktu beserta jarak pantulnya.

Light Emiting Dioda (LED)

Light Emiting Diode
Light Emiting Diode

Dioda cahaya atau lebih dikenal dengan sebutan LED (light-emitting diode) adalah suatu semikonduktor yang memancarkan cahaya monokromatik yang tidak koheren ketika diberi tegangan maju.

Gejala ini termasuk bentuk elektroluminesensi. Warna yang dihasilkan bergantung pada bahan semikonduktor yang dipakai, dan bisa juga ultraviolet dekat atau inframerah dekat.
LED dapat menyala jika diberikan tegangan yang cukup untuk memicu dioda persambungannya, biasanya nilainya adalah 1.5V, LED tersebut juga harus dialiri arus listrik yang cukup untuk menyalakan LED tersebut, biasanya sebesar 10mA.
Rangkaian LED sederhana dapat dilihat dalam gambar berikut

LED
Dari rangkaian diatas, jika pin di beri tegangan 5V, maka pada resistor akan muncul tegagan sebesar :

VR = Vin – Vled
VR = 5 – 1.5 = 3.5V

Arus yang mengalir pada rangkaian tersebut adalah :

I = VR/R
I = 3.5/330 = 10.6 mA

Arus sebesar 10.6 mA sudah cukup untuk menyalakan LED tersebut dengan nyala yang cukup.

Motor DC Driver

Dalam dunia mekatronika /  Robotika, peran driver dc motor sangatlah penting untuk menjamin kehandalah dari sistem yang dibuat.

Motor driver tidak hanya mengatur pergerakan motor, akan tetapi juga diharapkan dapat mengatur kecepatan motor.
Ada beberapa driver motor yang ada saat ini, diantaranya adalah :

1. Motor driver satu arah putaran
Motor driver ini digunakan untuk mengatur pergerakan motor pada satu arah putaran saja (Tidak bisa bolak balik).  Motor driver ini juga terdiri dari 2 macam, yaitu :

a. Driver Motor satu arah kecepatan tetap :

Driver Motor Satu Arah Kecepatan Tetap
Driver Motor Satu Arah Kecepatan Tetap


Driver motor seperti gambar diatas digunakan untuk mengatur kerja dari motor yang tidak memerlukan pengaturan kecepatan, seperti motor pengangkat beban, atau pemindah beban.


2. Motor driver satu arah dengan pengaturan kecepatan

Driver Motor Satu Arah Dengan Pengaturan Kecepatan
Driver Motor Satu Arah Dengan Pengaturan Kecepatan


Jika diperlukan pengaturan kecepatan motor, maka kecepatan motor dapat di atur dengan memberikan pulsa PWM pada masukan Transistor FET, semakin tinggi duty cycle pada sinyal PWM, maka kecepatan motor akan menjadi semakin cepat, untuk PWM yang digunakan biasanya menggunakan frekwensi antara 100Hz – 200Hz.
Adapun rumus duty cycle adalah sebagai berikut :

Duty = [tHigh/(tHigh+tLow)] * 100 %

Untuk pengaturan motor dengan dua arah, prinsipnya menyerupai rangkaian di atas, dengan menggunakan konfigurasi H bridge.

Mikrokontroler, Mikroprosesor, dan Mikrokomputer

Mungkin sering kita mendengar istilah mikrokontroler, mikroprosesor, dan mikrokomputer, akan tetapi mungkin masih ada yang masih belum mengerti perbedaan dari ketiganya.
Sebuah system komputer paling tidak harus mempunyai sebuah prosesor (CPU-Central Processing Unit / ALU-Arithmatic and Logical Unit), Memory, dan antarmuka input-outpu seperti gambar dibawah ini:

Blok Diagram Sistem Komputer
Blok Diagram Sistem Komputer


Dari gambar diatas terlihat untuk membuat suatu sistem komputer yang utuh, minimal dibutuhkan 3 bagian, yaitu prosesor(CPU), Memory (RAM dan ROM), serta antarmuka masukan dan keluaran.

1. Mikroprosesor
Mikroprosesor adalah satu bagian dari sistem komputer, mikroprosesor tersebut tidak dapat berdiri sendiri, dan memerlukan memory dan periperal input – output. Salah satu contoh mikroprosesor adalah seperti (micro)prosesor intel 8086, 80256, 80386, 486, pentium1, dll. Mikroprosesor tersebut memerlukan komponen lainnya untuk membentuk suatu sistem mikrokomputer.

2. Mikrokomputer
Mikrokomputer adalah sistem komputer dimana ke tiga bagian utama dari sistem di rangkai dari bagian yang terpisah (tidak dalam satu chip/IC).

3. Mikrokontroler

Block Diagram Mikrokontroler (AT89S51)
Block Diagram Mikrokontroler (AT89S51)


Gambar diatas adalah blok diagram dari mikrokontroler AT89S51, dari gambar diatas terlihat bahwa ketiga bagian utama dari sistem mikrokomputer sudah tercakup semuanya dalam satu chip AT89S51, seperti prosesor (ALU), Memory (RAM dan Flash), serta 4 port input-output.

Transistor Bipolar

Transistor
Transistor


Transistor adalah komponen semikonduktor yang terdiri dari 3 pin yand disebut emitor, basis, dan kolektor.
Sebuah transistor memiliki penguatan (hfe), yaitu perbandingan dari arus yang akan mengalir di kolektor dibanding arus yang mengalir pada basis.

hfe = Ic/Ib

Transistor dapat berfungsi sebagai penguat, baik itu sebagai penguat arus ataupun sebagai penguat tegangan. Selain dapat berfungsi sebagai penguat, transistor juga dapat berfunsi sebagai switching.
Transistor sebagai rangkaian switching inilah yang dapat digunakan bersama dengan mikrokontroler.
Mikrokontroler pada pin-pinnya dapat mengeluarkan tegangan umumnya 5V, dengan arus maksimal 10mA pada logika 1, keluaran mikrokontroler tersebut dapat dipergunakan untuk misalnya menyalakan led, atau mengaktifkan relay, ataupun mengaktifkan motor listrik, akan tetapi keluaran mikrokontroler tersebut yang sebesar 5V, 10mA tidak mampu untuk mengaktifkan relay yang membutuhkan arus minimal 100 mA, atau untuk mengaktifkan motor DC yang membutuhkan arus misalnya sebaesar 400mA. Oleh karena itu dibutuhkan sebuah rangkaian switching.
Berikut adalah rangkaian switching menggunakan transistor :

Transistor Switching
Transistor Switching


Gambar diatas adalah rangkaia switching menggunakan transistor BC107, jika dilihat dalam datasheetnya:
transistor tersebut memiliki hfe berkisar antara 110 – 450 (variasi nilai tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor, suhu, bahan, proses produksi, dll), untuk amannya maka kita menggunakan nilai minimumnya yaitu sebesar 110.

Untuk dapat mengaktifkan relay, maka pada kolektor dibutuhkan arus sebesar 100mA (spesifikasi dari relay), oleh karena itu pada basis harus dialiri arus sebesar :

Ib = Ic/hfe
Ib = 100mA/110
Ib = 0,909mA

Jika tegangan keluaran pada mikrokontroler pada logika 1 adalah sebesar 4,2V (Datasheet mikrokontroler ATMEGA8), maka :

-Voh + Ib.R2 + 0,7 = 0
-4,2 + 0,000909.R2 + 0,7 = 0
0,000909.R2 = 3,5
R2 = 3,85 kOhm

maka nilai maksimum resistor yang dibutuhkan pada R2 adalah sebesar 3,85kOhm, kita bisa menggunakan resistor dengan nilai 3,3kOhm yang ada di pasaran.

Komparator Tegangan

Komparator tegangan adalah sebuat rangkaian yang dapat membandingkan besar tegangan masukan. Komparator tegangan biasanya menggunakan Op-Amp sebagai piranti utama dalam rangkaian.
Ada dua jenis komparator tegangan, yaitu komparator tegangan sederhana, dan komparator tegangan dengan histerisis.

 
1. Rangkaian Komparator tegangan sederhana

Rangkaian Komparator Tegangan Sederhana
Add capRangkaian Komparator Tegangan Sederhanation


Vref di hubungkan ke +V supply, kemudian R1 dan R2 digunakan sebagai pembagi tegangan, sehingg nilai tegangan yang di referensikan pada masukan + op-amp adalah sebesar :
V = [R1/(R1+R2) ] * Vsupply
Op-amp tersebut akan membandingkan nilai tegangan pada kedua masukannya, apabila masukan (-) lebih besar dari masukan (+) maka, keluaran op-amp akan menjadi sama dengan – Vsupply, apabila tegangan masukan (-) lebih kecil dari masukan (+) maka keluaran op-amp akan menjadi sama dengan + Vsupply.
Jadi dalam hal ini jika Vinput lebih besar dari V maka keluarannya akan menjadi – Vsupply, jika sebaliknya, Vinput lebih besar dari V maka keluarannya akan menjadi + Vsupply.
Untuk op-amp yang sesuai untuk di pakai pada rangkaian op-amp untuk komparator biasanya menggunakan op-amp dengan tipe LM339 yang banyak di pasaran.


2. Rangkaian Komparator tegangan dengan histerisis

Tujuan dari rangkaian histerisis adalah untuk meminimalkan efeknois pada tegangan masukan. Misalnya tegangan referensinya di set 3,3 V, sedangkan itu juga memiliki nois sebesar 0,1 V, maka jika tegangan inputnya tepat 3,3V, maka keluarannya akan berfluktuasi sesuai dari nois nya.
Dengan menggunakan komparator dengan histerisis, maka keluarannya tidak akan berlogika -Vsupply sebelum Vinput melewati batas atas, dan sebaliknya, keluarannya tidak akan mengeluarkan tegangan +Vsupply sebelum Vinput melewati batas bawah.

Komparator dengan Histerisis
Add captionKomparator dengan Histerisis

LED Seven Segmen

Led Seven Segmen biasanya digunakan untuk menampilkan angka berupa angka0 sampai 9, angka – angka tersebut dapat ditampilkan dengan mengubah nyala dari 7 segmen yang ada pada led yang disusun seperti gambar dibawah ini :

segmen

Led Seven Segmen, terdapat dua macam, yaitu common anoda dan common Catoda.
Common Catoda berarti seven segmen tersebut terdiri dari led – led dimana Catoda nya (Kutub -) di hubungkan menjadi satu, skematiknya adalah seperti gambar dibawah ini :

seven_seg_cc_sch

Sedangkan untuk common anoda, skema nya adalah seperti dibawah ini :

seven_seg_ca_sch

Led seven segmen tersebut dapat diaktifkan dengan menghubungkan dengan perangkat kontrol seperti mikrokontroler, seperti di bawah ini :

seven-segment_led_driver

Dengan nilai hambatannya tergantung dari arus yang akan dilewatkan dalam rangkaian.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Online Project management